Hari raya yang lebur dan hati yang hancur
Idul Fitri 1440 H-
Saat semua orang bergembira merayakan hari raya, ini pertama bagiku hari raya yg penuh kekosongan, hampa, dan merasa sendiri di keramaian orang. Tepat 1 tahun yang lalu papa meninggal sehari sebelum perayaan Idul Fitri di tahun 2018, waktu terus berlalu tak terasa sudah setahun terlewati. Banyak masalah yang datang dan pergi seiringnya kepergian beliau, salah satunya waktu keluarga papa yang seakan berprasangka buruk pada keluarga kecil ini. Seolah kami melupakan makam nya, yang saat itu musim hujan di bulan mei membuat makam di penuhi rumput saat mereka ziarah.
Padahal mereka hanya melihat sebagian kesalahan kecil yang terjadi, tetapi seseorang dari mereka lebih memilih memfoto dan mengupload nya di status sosial media dengan kalimat "YANG TERLUPAKAN". Terkadang dunia teknologi seperti bom waktu yang meledak secara tiba-tiba, tidak memilih siapa yang akan kena akibatnya. Itulah saya sangat benci soal update update status di media sosial, mereka menyindir sesuatu berharap yang di tujunya membaca status tersebut padahal itu akan di baca semua orang yang ada di media sosial. Kenapa tidak lansung menyampaikan ke saya perihal makam yang kotor akibat musim hujan, dan mengingatkan saya untuk lebih rutin membersihkan nya ketika musim hujan.
Kesalahan mereka seolah memberitahu kepada seluruh dunia, bahwa kami melupakan seorang papa yang telah meninggal. Hah, padahal mereka cuma melihat sebagian kecil kesalahan dan tidak melihat segunung yang telah di perjuangkan hingga saat ini. Saat ini timbulah rasa bersalah dari mama, padahal itu bukan masalah besar tetapi karena seorang istri yang di tinggalkan suami tercintanya membuat hati nya sedikit rapuh tertimpa gerimisnya hujan. Sebenarnya ada sifat pendendam dalam diriku yang sangat kuat, dan tidak mudah memaafkan seseorang yang melukai persaaan orangtuanya.
Ketika malam takbiran, mama berpesan kepada anak-anaknya, bahwa setelah selesai Sholat Idul Fitri kami harus lansung ke rumah nenek ( Ibu dari papa ) untuk bermaaf-maafan. Biasa nya itu acara rutin setiap Hari Raya, tapi entah saya sudah kecewa terhadap sikap merekan dan memutus kan menolak permintaan mama. Mama pun marah, setelah sholat ia mengis dan lansung mengurung diri di kamar hingga 2 hari mama tidak memperdulikan ku. Yah mau gimana lagi setelah beres sholat aku lansung ke tempat makan untuk membersihkan makam papa, agar tidak ada lagi keluarga nya berkataYANG TERLUPAKAN kubersihkan semuanya tanpa harus mengupload di media sosial apa yang aku lakukan.
Pada perayaan hari raya inilah aku merasa kosong, mungkin inila arti kata sendiri dalam keramaian. Tetapi ya sudah hidup harus di jalani, jika kaki sendiri saja tidak kuat untuk berdiri sendiri bagaimana untuk membantu orang lain.
Saat semua orang bergembira merayakan hari raya, ini pertama bagiku hari raya yg penuh kekosongan, hampa, dan merasa sendiri di keramaian orang. Tepat 1 tahun yang lalu papa meninggal sehari sebelum perayaan Idul Fitri di tahun 2018, waktu terus berlalu tak terasa sudah setahun terlewati. Banyak masalah yang datang dan pergi seiringnya kepergian beliau, salah satunya waktu keluarga papa yang seakan berprasangka buruk pada keluarga kecil ini. Seolah kami melupakan makam nya, yang saat itu musim hujan di bulan mei membuat makam di penuhi rumput saat mereka ziarah.
Padahal mereka hanya melihat sebagian kesalahan kecil yang terjadi, tetapi seseorang dari mereka lebih memilih memfoto dan mengupload nya di status sosial media dengan kalimat "
Kesalahan mereka seolah memberitahu kepada seluruh dunia, bahwa kami melupakan seorang papa yang telah meninggal. Hah, padahal mereka cuma melihat sebagian kecil kesalahan dan tidak melihat segunung yang telah di perjuangkan hingga saat ini. Saat ini timbulah rasa bersalah dari mama, padahal itu bukan masalah besar tetapi karena seorang istri yang di tinggalkan suami tercintanya membuat hati nya sedikit rapuh tertimpa gerimisnya hujan. Sebenarnya ada sifat pendendam dalam diriku yang sangat kuat, dan tidak mudah memaafkan seseorang yang melukai persaaan orangtuanya.
Ketika malam takbiran, mama berpesan kepada anak-anaknya, bahwa setelah selesai Sholat Idul Fitri kami harus lansung ke rumah nenek ( Ibu dari papa ) untuk bermaaf-maafan. Biasa nya itu acara rutin setiap Hari Raya, tapi entah saya sudah kecewa terhadap sikap merekan dan memutus kan menolak permintaan mama. Mama pun marah, setelah sholat ia mengis dan lansung mengurung diri di kamar hingga 2 hari mama tidak memperdulikan ku. Yah mau gimana lagi setelah beres sholat aku lansung ke tempat makan untuk membersihkan makam papa, agar tidak ada lagi keluarga nya berkata
Pada perayaan hari raya inilah aku merasa kosong, mungkin inila arti kata sendiri dalam keramaian. Tetapi ya sudah hidup harus di jalani, jika kaki sendiri saja tidak kuat untuk berdiri sendiri bagaimana untuk membantu orang lain.
Komentar
Posting Komentar